30 October 2006

Lebaran Pertama


Selamat Lebaran, ya…. Maaf lahir batin. Ada cerita dari Kaka dan Dede nih. Silakan disimak.

Lebaran kali ini adalah Lebaran pertama Kaka-Dede. Lumayan menyenangkan. Ayah ambil cuti. Cuti bunda pun belum habis. Bisa kumpul-kumpul deh.

Minggu 22 Oktober Kaka-Dede pulang ke rumah di Jogja setelah tiga minggu tinggal di rumah eyang di Klaten. Keesokan paginya saat hari pertama Lebaran (Senin, 23 Oktober), ayah pulang pagi-pagi habis Subuh. Perjalanan pagi-pagi dari Semarang ke Jogja saat hari pertama Lebaran mungkin tidak begitu menyenangkan. Mungkin, lho? Bayangin aja. Sementara orang lain sudah bersiap shalat Id, ayah masih di jalan. Lha, bunda dan Kaka-Dede di rumah nungguin ayah sampai rumah.

Setelah menempuh perjalanan selama dua jam lebih dikit, sampailah ayah di Jogja. Tapi gak langsung ke rumah, lho? Kata ayah, saat sampai di Beran, Sleman dah pukul 06.30. Ya, akhirnya shalat Id di Sleman, tepatnya di Lapangan Denggung.

Kenapa di Lapangan Denggung? Bukan lantaran apa-apa. Pasal, mau balik ke rumah waktunya gak cukup. Lagian, jam 06.30 di tempat lain sudah mulai shalat. Dari informasi di sebuah koran yang terbit hari Sabtu (21 Oktober 2006), shalat Id yang dimulai pukul 07.00 hanya ada di tiga tempat, yaitu Lapangan Denggung di Sleman (tempat ayah shalat), Lapangan SMPN 1 Yogyakarta, dan Lapangan Parkir Selatan Melia Purosani. Ada sih tempat lain yang menggelar shalat Id pada jam 07.00, yaitu di Masjid Agung Dr Wahidin Sudiro Husodo, Sleman. Cuman, itu shalatnya hari Selasa, 24 Oktober 2006. Kami kan berlebaran tanggal 23 Oktober, jadi gak ikut shalat di masjid ini dong? (Stt… Kaka-Dede gak ikut shalat Id lho. Eh, maksudnya belum ikut. Kan masih kecil, gitu….)

Hari kedua Lebaran, baru ada tetangga yang dateng ke rumah. Kok? Ya. Soale di kampung Kaka-Dede, Kampung Bener, di daerah Tegalrejo, Jogja, pada ngerayain Lebaran tanggal 24 Oktober. Jadi, saat hari pertama Lebaran (23 Oktober), seharian kami cuman di rumah, gak ke mana-mana. Eh, termasuk gak makan di luar rumah, lho? Ya, ayah bilang menghormati para tetangga yang masih puasa dan baru berlebaran tanggal 24 Oktober. Geto….

Hari ketiga Lebaran (Rabu, 25 Oktober) keluarga dari Moyudan datang bersama eyang buyut. Katanya mo jemput Kaka-Dede. Ya, ayah dan bunda tak bisa berkutik. Akhirnya pukul 11.00 kami meluncur ke Moyudan, Sleman, tempat sodara-sodara dan baru balik ke rumah hari Jumat sore.

Kaka, Dede, ayah, dan bunda menghuni rumah cuman sampai Minggu pagi, 29 Oktober. Tepat pukul 08.00 kami meluncur ke Klaten, balik ke rumah eyang. Sayang, banyak acara yang gak kerekam kamera. Ada beberapa yang sempat kerekam, tapi hasilnya gak memuaskan. Salah satunya adalah foto di atas, foto Kaka-Dede sama ayah.


22 October 2006

Dede Vs Boboho

Suatu siang, kebetulan Dede lagi ceria. Gak tahu kenapa. Nah, rupanya bunda gak mau sia-siakan kesempatan ini. Ambil kamera, jeprat-jepret dan… jadi deh foto Boboho, eh… foto Dede yang agak-agak berbau Boboho, gitu. Gak tahu ya kok wajah Dede (Kaka juga) sering berubah-ubah. (Emang bunglon?) Tapi bener lho. Waktu lahir tuh Dede mirip-mirip bunda (kata orang), eh lama-lama kok berubah mirip-mirip ayah. (Apalagi endutnya tuh, wah jangan ditanya deh) Ya sutralah. O, ya. Selamat Lebaran buat yang merayakan. Salam....

11 October 2006

Bahasa Kaka

Kok judulnya bahasa Kaka? Emang Kaka punya bahasa sendiri? Iya, dong. Bahasa Kaka tuh aneh loh? Cuman kayak orang bergumam. Bersuara, tapi gak ada yang tahu artinya. Makanya jangan heran kalo ayah dan bunda namakan ini bahasa Kaka. Tapi ini bahasa bukan monopoli Kaka lho? Boleh kok orang lain pakai. Gak melanggar hak cipta. (Emang siapa yang mencipta bahasa ini ya?)

Pertama kali ayah dan bunda dengar Kaka mengeluarkan kata-kata aneh (dari bahasa yang aneh pula), mereka ketawa. ”Lho, yang dipakai Kaka nih bahasa mana ya?” tanya ayah. Ya, bunda jawab aja gak tahu. Soale emang gak tahu. Masa mau jawab bahasa planet? Misal, ini bahasa Mars, Yupiter, ato bahasa dari Venus. Gak mungkin kan? Orang bunda juga belum pernah pergi ke planet-planet itu? Nah, pengen tahu gimana ekspresi Kaka saat ngomong dengan bahasanya sendiri? Lihat nih fotonya. Lucu kan?

Setelah dikomentari bahwa bahasanya aneh, Kaka langsung pasang tampang serem. Pasang tampang cemberut. Trus, mata agak dipelototin, gitu. Pokoke pura-pura marah deh. Tapi ayah dan bunda kok gak takut ya? Malah pada ngakak. Ketawa lepas. (Emang tampang Kaka bener-bener lucu, ya? Padahal udah dibikin seserem mungkin biar kelihatan ka orang marah). Dan ujung-ujungnya, tampang serem Kaka ketangkap kamera. Akhirnya, dapet deh foto ini. Tuh, kan gak serem. Sama sekali gak nakutin deh. He... he... he.... (Jadi pengen malu nih?)

Lama-lama sebel juga. Capek-capek ngomong, eh, gak dianggep. Trus, karena sebel, sekalian aja Kaka bilang, ”Wekkk!!!!” Tahu kan gimana ekspresi Kaka. Ya, tentu sambil menjulurkan lidah. Habis, kesel banget sih. Pokoknya kesel, kesel, dan kesel. Diajak ngomong pada gak ngerti bahasanya. Pada gak nyambung. Payah!!!! (Kayaknya Kaka mesti pake ragam bahasa yang lain deh. Cuman, mmm... pake bahasa apa ya? Soale, Kaka kan belum menguasai bahasa orang dewasa, apalagi bahasa yang baik dan benar, bahasa yang sesuai kaidah kebahasaan. Bahasa yang sesuai dengan EYD. Halah... opo maneh iki?)