27 November 2006

Dede Dah Gede?

Dede dah gede lho. Sekarang dah gak pake gurita lagi. Lha wong dah gak cukup? Kalo dipaksa pake gurita, kan malah sakit.

Nah, Sabtu lalu (25 November) ayah dan bunda beliin Dede baju (kaus) dan celana baru. Tentunya yang ukurannya lebih gede dari baju dan celana yang udah Dede punya. Seneng deh rasanya. Jadi pengen ketawa terus. He… he… he…. (Tapi bener lho, akhir-akhir ini Dede kalo digodain sering tersenyum, sementara Kaka hanya sesekali aja senyum. Kalo lagi sendiri, Kaka lebih senang perhatikan jari-jari tangannya. Biar kelihatan sibuk kali ya?)

Ok, gitu aja ya. Lain kali disambung dengan cerita yang lebih seru.

22 November 2006

Mandi

mandi pagi, tidak biasa
mandi siang, tidak biasa
mandi sore, tidak biasa
tidak mandi, sudah biasa....

Itulah lagu yang (konon) dulu sering ayah lantunkan. Tepatnya saat ayah masih jadi mahasiswa. Wah, emang waktu itu ayah males mandi ta? Tau ah. Kali aja iya ya? Tapi sekarang pun terkadang ayah masih melantunkan itu lagu, padahal dah gak semalas dulu dalam hal mandi.

Halnya dengan Kaka-Dede, beda dong? Kaka-Dede rajin mandi. Dua kali sehari dah pasti. Kalo pagi, masih sempat bunda yang mandiin, sedang kalo sore eyang. Soalnya bunda baru pulang kerja menjelang maghrib. Lha, kalo mesti nunggu bunda pulang kan dah terlalu dingin. Meski pake air hangat, gak mau ambil risiko masuk angin deh.

Mo lihat foto Kaka-Dede saat mandi? Nih ada dua foto. Ayo tebak, mana yang Kaka dan mana yang Dede?

12 November 2006

Tiga Bulan Usia Kami

Kemarin (Sabtu 11 November 2006) adalah genap tiga bulan usia kami. Gak nyangka, waktu begitu cepat. Betul kali ya kata orang: hidup ini tahu-tahu. Ya, kita sering gak nyadari kalo waktu terus berjalan. Tiba-tiba ... tahu-tahu begini, tahu-tahu begitu. Bahkan ada yang bilang: dahulu anak-anak, eh ... tahu-tahu dah punya anak? He... he... he.... Salam....

10 November 2006

Lebaran untuk Semua


Upst. Maaf. Ada satu pesan singkat yang tercecer. Ya, sebuah pesan singkat yang masuk ke ponsel ayah. Bunyinya demikian:

Met Idul Fitri jg K’ Ugie n Mba’ Yustina, juga buat si kembar.
Sama2, mohon maaf bl ada salah.
Aku merayakan Natal, tp selalu kangen Lebaran.

Ya, begitulah. Jika Lebaran dijadikan sebagai momentum untuk saling memaafkan, dia adalah milik bersama. Bukankah kita bergaul dengan banyak orang dengan latar belakang kehidupan yang beragam, termasuk dalam hal keyakinan yang berbeda? Ada komentar?

09 November 2006

Otak-atik Makna Lebaran


Makna Lebaran tuh ternyata banyak banget ya? Dan (lagi-lagi) ternyata, orang Jawa yang begitu familiar dengan ilmu ”otak-atik gathuk” punya pandangan tersendiri tentang makna Lebaran. Berikut makna Lebaran berdasarkan hasil analisis ilmu ”otak-atik gathuk”. Semua padanan kata Lebaran di bawah ini dalam bahasa Jawa.

1. Lebaran = libur. Ini sudah am alias umum. Karena Lebaran pula Kaka, Dede, ayah, dan bunda bisa kumpul dan liburan ke tempat sodara-sodara untuk bersilaturahmi dan bermaaf-maafan.

2. Lebaran = lebar atau usai/selesai. Artinya, selesai sudah ibadah puasa yang sebulan lamanya. (Kaka dan Dede belum puasa ding? Bunda juga belum.)

3. Lebaran = luber atau meluap. Artinya, Lebaran mengingatkan kita yang mampu bahwa kita telah diberi kelimpahan nikmat, termasuk harta. Oleh karena itu, kita harus membayar zakat sebagai wujud syukur atas luberan nikmat itu sehingga saudara kita yang kurang mampu bisa sama-sama menikmati luberan itu pada hari Lebaran.

4. Lebaran = lebur. Setelah dosa kita kepada Tuhan dilebur dengan puasa dan berbagai ibadah di bulan Ramadhan, saatnyalah dosa kita kepada sesama manusia dilebur pada saat Lebaran, yaitu ketika kita saling memaafkan.

5. Lebaran = labur. Semua pada tahu labur kan? Ya, labur adalah sejenis cat tembok yang warnanya putih. Dengan demikian, setelah Lebaran diharapkan diri kita bisa seputih labur. Bersih tanpa dosa, baik kepada Tuhan maupun kepada sesama manusia. Semoga!!!


08 November 2006

Salam buat Kaka-Dede


Nah, sekarang saatnyalah Kaka-Dede tepatin janji buat posting SMS yang masuk ke ponsel ayah dan bunda. Di antara pesan singkat yang masuk, ada titipan salam buat Kaka dan Dede. Beberapa di antaranya seperti yang tertulis di bawah ini.

Eko, Yustina, & kembar.
Mhn maaf u sgala salah laku & ucap.
Tetap smangat!

yup, cama2.
mfin sma slhku jg, bk yg sngj ato tdk ....
mudik k jog g?
smpin mfku 2 mbk n twins y?

Sugeng Riyadi.
Nyuwun jembaripun pangarsami.
Mhn maaf atas khilaf.
Cium jauh buat si kembar
:)


Nuwun sewu mas eko, nembe saged mbales.
Maaf lhr btn jga atas khilaf dan salahku slama ini.
O, ya. Aku jga dah punya momongan.
Slm buat si kembar.

Itulah sebagian pesan singkat dan titipan salam buat Kaka dan Dede. O, ya. Ada lagi pesan singkat yang bikin semangat kami sekeluarga. Begini bunyinya:

Mohon maaf lahir batin.
Semoga dunia lebih cerah.
Semoga hidup lebih mudah.


07 November 2006

Maaf Via SMS


Pada hari pertama Lebaran, sambil jagain Kaka-Dede bobo, ayah menyempatkan diri mengirim pesan singkat (SMS) kepada kenalan-kenalan ayah. Gini nih bunyinya:

pada hari yang fitri ini
tak ada kata yang bisa terucap
selain mohon maaf atas segala khilaf
(eko sugiarto – yustina ari t – si kembar)

Tuh Kaka-Dede pake nama baru: si kembar. Kecil-kecil gini dah ikutan kirim-kirim pesan singkat alias SMS lho?! Nah, pengen tahu balasan atas pesan singkat yang dikirim ayah? Ini nih dua di antaranya.

beli es beli kurma
taruh di piring makan bersama
SMS sudah diterima
kukirim pula maksud yang sama

taman berbunga lebat
dalam dada damai bersemi
jika tangan tak sempat berjabat
salam dan doa penyambung silaturahmi

Itu dua SMS balasan yang disuka ayah. (Maaf kepada para pengirim SMS yang gak dicantumin di blog Kaka-Dede ya? Maaf juga buat pengirim SMS yang pesannya hanya dicantumin sebagian, seperti dua SMS di atas.)

O, ya. Ada lagi SMS lain. Ini dari seorang teman ayah asal Nias yang saat ini mukim di Jogja. Begini bunyinya:

Hatiku tak sebening XL dan tak secerah MENTARI, banyak salah yang telah kubuat. FREN, kupinta SIMPATI-mu tuk BEBAS-kan aku dari dosa dengan maafmu ....
(Ini juga dipotong. Soale panjag banget!)

Nah, unik to SMS dari temen-temen ayah? Makanya, nantikan postingan berikutnya. Masih soal SMS, tapi isinya ada sepenggal titipan salam buat Kaka-Dede.

Meminta Itu Baik


Kata orang (bukan kato amak seperti iklan susu di televisi itu lho), tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Artinya, memberi lebih baik daripada menerima. Secara tidak langsung, hal ini juga berarti meminta adalah sesuatu yang kurang baik (kalau tidak bisa dikatakan jelek).

Kata ayah (lagi-lagi, bukan kato amak seperti iklan susu di televisi itu lho), meminta tidak selalu berkonotasi buruk atau jelek. Ada kok meminta yang bisa dianggap baik?

Masih kata ayah (dan lagi-lagi, bukan kato amak seperti iklan susu di televisi itu lho), meminta yang baik adalah meminta maaf. Bahkan, ayah punya sebuah kalimat bijak untuk hal ini. Sebuah kalimat yang ayah rangkai saat berada di depan komputer. Begini bunyinya:

dalam hal harta
orang yang memberi adalah lebih baik
daripada orang yang menerima
tapi dalam hal maaf
orang yang meminta adalah jauh lebih baik

Pertanyaannya adalah mengapa orang yang meminta maaf lebih baik? Alasannya cukup sederhana. Orang yang mau meminta maaf berarti menyadari bahwa dia telah mengakui semua kesalahannya. Penyesalan atas perbuatan dosa atau kesalahan yang pernah dia lakukan mampu menghancurkan egonya yang tercermin dari keikhlasannya untuk meminta maaf. Bukankah ini adalah suatu tindakan yang sangat mulia? Begitu kato amak, eh... kata ayah.

Ah, kok jadi panjang banget ya postingan kali ini. Daripada ngelantur, baiknya Kaka-Dede undur diri aja deh. Takutnya ntar pada bosan baca postingan ini. Tapi tunggu postingan Kaka-Dede berikutnya ya. Soale, isinya bakal lebih seru lho?